Ketika Remaja Mau Menikmati Makanannya: Cerita dari Meja Makan di Villa Giri Kembang Cipanas
Ada satu hal yang sering luput ketika sebuah rombongan remaja bepergian.
Panitia sudah memikirkan transportasi.
Sudah memikirkan tempat tidur.
Sudah memikirkan acara, permainan, kegiatan malam, bahkan jadwal pulang.
Tetapi ada satu pertanyaan sederhana yang kadang justru cukup sulit dijawab:
“Anak-anak nanti mau makan apa?”
Bagi orang dewasa, menyediakan makanan dalam jumlah banyak mungkin terlihat sebagai persoalan logistik. Tetapi ketika yang dilayani adalah anak-anak dan remaja, persoalannya menjadi sedikit berbeda.
Makanan harus cukup mengenyangkan untuk mendukung aktivitas mereka. Ada sumber protein. Ada sayuran. Ada buah. Ada makanan yang familiar. Tetapi di sisi lain, makanan tersebut juga harus terlihat menarik dan memiliki rasa yang bisa diterima oleh anak-anak muda.
Dan di sinilah kami belajar bahwa menyiapkan makanan untuk rombongan remaja membutuhkan lebih dari sekadar menghitung jumlah porsi.
Tantangan memberi makan remaja di dunia yang berubah
Persoalan ini sebenarnya bukan hanya dialami oleh penyelenggara kegiatan di Indonesia.
WHO menempatkan masa remaja sebagai salah satu periode penting dalam pertumbuhan, ketika kebutuhan nutrisi sangat berkaitan dengan pertumbuhan dan kesehatan jangka panjang. Pada masa ini, tantangan gizi dapat berupa kekurangan zat gizi mikro, kualitas pola makan yang kurang baik, kerawanan pangan, sampai kelebihan berat badan. (Organisasi Kesehatan Dunia)
Di tingkat global, persoalannya bahkan semakin kompleks.
Laporan UNICEF Feeding Profit menunjukkan bahwa anak-anak dan remaja semakin hidup dalam lingkungan makanan yang dipenuhi makanan ultra-proses, makanan ringan tinggi gula atau garam, minuman manis, serta produk yang dipasarkan secara agresif kepada mereka. Secara global, 60% remaja usia 15–19 tahun dalam data yang digunakan UNICEF mengonsumsi lebih dari satu makanan atau minuman manis pada hari sebelumnya. (UNICEF DATA)
Di Asia dan Pasifik, tantangannya juga nyata. UNICEF melaporkan bahwa kelebihan berat badan pada anak di kawasan Asia Timur dan Pasifik telah meningkat lebih dari dua kali lipat sejak 2000. Lingkungan makanan yang dipenuhi produk ultra-proses dan pemasaran makanan yang agresif menjadi salah satu faktor yang diperhatikan. (UNICEF Global)
Indonesia menghadapi persoalan yang tidak kalah kompleks.
UNICEF mencatat bahwa Indonesia masih menghadapi triple burden of malnutrition: kekurangan gizi, kelebihan berat badan, dan kekurangan zat gizi mikro. Pada kelompok anak usia sekolah dan remaja, lebih dari 95% dilaporkan belum mengonsumsi buah dan sayuran dalam jumlah yang direkomendasikan, sementara sekitar separuh mengonsumsi satu atau lebih minuman manis setiap hari. (UNICEF Global)
Artinya, tantangannya bukan hanya membuat anak kenyang.
Tantangannya adalah membuat pilihan makanan yang lebih beragam dan bernutrisi menjadi sesuatu yang mereka sukai.
Karena makanan yang baik juga harus disukai
Inilah yang menjadi perhatian kami ketika menerima tamu rombongan anak dan remaja di Villa Giri Kembang Cipanas.
Kami menyadari bahwa makanan yang menurut orang dewasa “bagus” belum tentu otomatis menarik bagi remaja.
Karena itu, pengalaman di lapangan mengajarkan kami untuk tidak hanya berpikir tentang satu jenis lauk.
Meja makan rombongan dapat diisi dengan beberapa pilihan yang saling melengkapi.
Ada ikan, ayam, daging, sayuran, dan sup. Ada makanan yang familiar dan mudah dinikmati. Ada pula hidangan yang memberikan sedikit variasi agar waktu makan tidak terasa monoton.
Dalam beberapa penyajian, misalnya, ikan dapat hadir dalam bentuk gurameh asam manis, ikan tenggiri woku, ikan kembung goreng, atau cumi tomat ijo.
Untuk ayam tersedia pilihan seperti ayam goreng mentega, ayam bakar, dan filet ayam goreng tepung.
Sementara untuk pilihan daging, ada asem-asem tahu cabe ijo dengan daging sapi, empal srondeng, bistik daging sapi, hingga bistik lidah sapi.
Kemudian ada sayuran dan hidangan berkuah seperti sup kimlo, soto ayam, dan sayur asem Betawi.
Untuk anak-anak yang lebih menyukai makanan sederhana dan familiar, tersedia pula pilihan seperti sup bakso, sup ayam, sup makaroni, dan sup celup-celup.
Dan ketika ingin membuat makan bersama terasa sedikit lebih istimewa, ada pilihan seperti sate ayam, tongseng sapi, hingga gule kambing.
Buah juga menjadi bagian dari penyajian pada menu tertentu.
Bukan berarti semua menu harus dimakan oleh setiap peserta.
Justru di situlah pentingnya variasi.
Ketika sebuah kelompok besar duduk bersama, selera mereka tidak pernah benar-benar sama. Ada yang menyukai ikan. Ada yang hanya mengambil ayam. Ada yang senang dengan sayuran. Ada yang mencari sup hangat. Ada yang baru tertarik makan ketika melihat makanan yang memang sudah dikenalnya.
Memberikan beberapa pilihan membuat meja makan menjadi lebih bersahabat bagi kelompok dengan selera yang beragam.

Dari “harus makan” menjadi “mau makan”
Bagi panitia kegiatan remaja, ini mungkin terdengar sederhana.
Tetapi pengalaman makan dapat memengaruhi suasana keseluruhan kegiatan.
Bayangkan sebuah rombongan baru selesai mengikuti aktivitas sejak pagi. Mereka lelah, berkeringat, dan lapar. Kemudian mereka masuk ke ruang makan.
Ketika makanan tersedia dan ada sesuatu yang mereka sukai, suasana makan dapat berubah menjadi momen kebersamaan.
Mereka mulai saling menawarkan lauk.
“Coba ini.”
“Ini enak.”
“Supnya masih ada?”
“Ambil ayamnya.”
Percakapan kecil seperti itu mungkin tidak pernah masuk ke dalam rundown kegiatan.
Tetapi justru dari momen-momen sederhana seperti itulah sebuah perjalanan bersama sering kali menjadi kenangan.

WHO sendiri menekankan bahwa pola makan yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan remaja dapat terbawa hingga kehidupan dewasa. Karena itu, menciptakan lingkungan yang membuat pilihan makanan yang lebih sehat tersedia dan mudah diterima merupakan bagian penting dari pembentukan kebiasaan makan. (Organisasi Kesehatan Dunia)
UNICEF dan Kementerian Kesehatan Indonesia bahkan mengembangkan panduan menu sarapan khusus remaja yang menekankan pentingnya variasi menu bergizi yang menarik dan disesuaikan dengan pangan lokal. (UNICEF Global)
Kami tentu tidak mengatakan bahwa sebuah menu di villa dapat menyelesaikan persoalan gizi remaja.
Namun kami percaya ada kontribusi kecil yang bisa dilakukan oleh penyedia makanan untuk rombongan.
Menyediakan pilihan makanan yang beragam, familiar, cukup menarik, dan tidak hanya berorientasi pada rasa kenyang.
Ketika kami melihat mereka menikmati makanan
Ada rasa syukur tersendiri ketika melihat peserta rombongan remaja duduk bersama di meja makan dan menikmati hidangan yang disediakan.
Foto-foto kegiatan terkadang hanya menangkap beberapa detik.
Namun bagi kami, ada cerita yang lebih panjang di baliknya.
Ada tim dapur yang menyiapkan makanan dalam jumlah banyak.
Ada panitia yang memikirkan kebutuhan peserta.
Ada orang tua atau pendamping yang berharap anak-anak mendapatkan makanan yang cukup selama kegiatan.
Dan ada anak-anak muda yang akhirnya duduk bersama, makan, bercanda, dan melanjutkan aktivitas mereka.
Itulah alasan mengapa bagi Villa Giri Kembang, makanan rombongan bukan hanya persoalan catering.
Kami melihatnya sebagai bagian dari pengalaman menginap.
Karena ketika sebuah sekolah, komunitas, organisasi, atau kelompok anak muda datang ke Cipanas untuk mengikuti kegiatan, mereka tidak hanya membutuhkan tempat untuk tidur.
Mereka membutuhkan tempat untuk berkegiatan.
Mereka membutuhkan ruang untuk berkumpul.
Dan tentu saja, mereka membutuhkan makanan yang membuat mereka merasa nyaman selama berada di sini.
Kami bersyukur ketika hidangan yang kami sajikan ternyata disukai oleh mereka.
Bagi kami, komentar sederhana seperti “Enak, Pak” atau melihat piring yang kembali dalam keadaan kosong terkadang sudah menjadi bentuk apresiasi yang sangat berarti.
Karena di balik sepiring makanan ada perhatian.
Dan di balik perhatian kecil itu, mudah-mudahan ada energi yang cukup bagi mereka untuk kembali belajar, bermain, berkarya, dan menikmati kebersamaan.
Villa Giri Kembang Cipanas
Untuk rombongan keluarga, sekolah, komunitas, maupun kegiatan perusahaan, Villa Giri Kembang menyediakan konsumsi yang disiapkan oleh tim dapur Giri Kembang.
Untuk rombongan, dapur villa tidak digunakan untuk memasak sendiri oleh peserta; makanan rombongan disiapkan oleh tim dapur Giri Kembang agar kebutuhan konsumsi kelompok dapat ditangani secara lebih teratur.
Kami percaya, tempat yang baik untuk sebuah kegiatan bukan hanya tentang di mana peserta tidur.
Tetapi juga tentang bagaimana mereka makan, berkumpul, berbicara, tertawa, dan membawa pulang pengalaman yang menyenangkan.
Dan jika hari itu ada seorang remaja yang berkata,
“Tadi makanannya enak.”
Kami sudah cukup bersyukur.
Untuk pertanyaan dan reservasi hubungi 08161989414
Menu Hidangan untuk Tamu Rombongan di Villa Giri Kembang Cipanas
Villa Strategis di Cipanas untuk Gathering Keluarga dan Pelatihan Perusahaan | Villa Giri Kembang










































